Harga Rumah Di Jakarta Kemahalan

Harga properti di Jakarta dinilai sudah terlalu tinggi. Hal ini membuat banyak properti di Jakarta sulit terjual, ditambah lagi dengan kondisi perekonomian setelah pemilihan umum yang belum membaik membuat banyak investor bertahan dan menunggu waktu yang tepat untuk beli properti.

Senior Associate Director Residential Tenant Representation Colliers International Indonesia Lenny Sinaga mengatakan bahwa memang ada beberapa lokasi di Jakarta yang harganya sudah terlalu tinggi dan tidak masuk akal.

“Kebanyakan karena pemilik bersikeras bahwa rumahnya masih bisa naik harganya, padahal mau dinaikkan setinggi apa pun ujung-ujungnya malah jadi tidak terjual,” katanya.

Lenny mencontohkan harga rumah mewah di Kemang sudah sama dengan di Kebayoran Baru, padahal dari segi lokasi tidak memungkinkan untuk terjual. “Jadi, kalau dibilang ketinggian ya, memang standar harganya udah segitu ya. Yang merusak [pasaran] adalah rumah yang harganya tinggi di lokasi yang tidak semestinya. Rata-rata harganya jadi berantakan,” sambungnya.

Hal ini senada dengan yang disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda yang mengatakan bahwa dengan tingginya harga jual, investor justru jadi kesulitan untuk menjual propertinya.

“Namun, ya, tetap saja masih banyak investor yang membeli harapan harganya akan terus naik. Padahal, pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar, ini sering kali diabaikan oleh investor,” katanya, beberapa waktu lalu.

Ali juga mengatakan bahwa kondisi pasar harga properti yang sudah ketinggian malah bisa menekan likuiditas pasar properti sehingga harga properti mau tidak mau harus terkoreksi kalau ingin bisa terjual.

Dengan kondisi seperti ini, untuk 2020, kata Lenny, pasar properti residensial yang masih akan bergerak tetap di segmen menengah ke bawah karena jika pengembang nekat untuk menjual yang kelas atas sulit terjual. “Saya lihat secara umum pasarnya masih lagi drop banget. Jadi, kalau mau yang mewah ya, jangan juga sekarang.”

Selama kuartal I/2020 tren pencarian orang untuk membeli rumah tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan menyewa.

Hal tersebut berdasarkan analisis dari situs jual beli realestat Lamudi.co.id yang menunjukkan pada tiga bulan pertama 2020 atau Januari–Maret ada 51.658 orang yang berniat untuk membeli rumah melalui Lamudi, sementara yang mencari iklan sewa rumah mencapai 35.006 orang.

Managing Director Lamudi Mart Polman dalam keterangannya mengatakan alasan mayoritas orang lebih memilih membeli rumah daripada menyewa lantaran mereka sudah memahami bahwa membeli rumah lebih banyak memberikan keuntungan.

“Belum lagi saat ini banyak stimulus yang dilakukan oleh pemerintah yang dapat mendorong minat seseorang untuk membeli rumah, seperti nilai LTV [loan to value] yang semakin rendah ataupun bunga KPR bank yang semakin kecil,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Adapun, data Lamudi mencatat bahwa daerah yang paling banyak dicari orang untuk membeli rumah adalah kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), sedangkan untuk hunian sewa berada di kota Yogyakarta, Malang, Medan, Depok dan Tangerang.

Lamudi juga mencatat jika mayoritas pencari properti menggunakan perangkat mobile dengan persentase mencapai 79,6 persen, desktop 19,6 persen dan tablet 0,8 persen.

Tidak hanya itu, mayoritas pencari rumah di Lamudi juga banyak didominasi oleh pria dengan persentase sebanyak 53 persen, sedangkan perempuan dengan 47 persen.

Mart juga mengatakan dirinya optimistis bahwa minat pencarian properti di tengah wabah corona jenis baru atau COVID-19 tidak akan surut, mengingat saat ini banyak masyarakat yang melakukan aktivitas bekerja dari rumah sehingga mereka memiliki waktu luang untuk mencari properti melalui gawainya.

“Buktinya sepanjang kuartal I/2020 jumlah lalu lintas data kita meningkat sebesar 15 persen jika dibandingkan kuartal IV/2019,” ujar Mart.