Living World Kota Wisata

Kendati sudah ada lima pusat belanja yang lebih dulu beroperasi di kawasan Cibubur dan sekitarnya, namun tak membuat duet Kawan Lama Group dan Sinarmas Land surut. Kedua raksasa di sektor ritel dan properti ini sepakat merealisasikan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 31 Mei 2018 dengan memulai konstruksi Living World Kota Wisata.

Menurut CEO Retail and Hospitality Sinar Mas Land Alphonzus Widjaja pusat perbelanjaan bukanlah bisnis yang gampang terpuruk meski saat pandemi Covid-19 ini mengalami kesulitan yang ditandai anjloknya jumlah kunjungan.

Sebaliknya, bisnis mal justru punya harapan untuk bangkit lebih cepat sepanjang pengelolanya mampu melakukan inovasi dan kreativitas. Peluang tetap ada, karena Indonesia punya prospek. Dengan populasi 270 juta penduduk, merupakan market yang besar dan potensial.

Khusus pasar Kota Wisata, lanjut dia, akan terus bertumbuh meski sudah ada lima mal di sekitarnya. Cibubur Junction, Plaza Cibubur, Transmall Cibubur, Ciputra Mall Cibubur, dan Metropolitan Mall Cileungsi belum cukup untuk memenuhi pasar kawasan tersebut.

Sinarmas Land sendiri masih punya cadangan lahan luas di Kota Wisata yang belum dikembangkan, dan peluang untuk menarik pembeli rumah sekaligus penghuni masih besar. Terlebih saat ini tengah dibangun infrastruktur konektivitas yakni Jalan Tol Cimanggis-Cibitung yang pintu masuk dan keluarnya ada di dalam kawasan Kota Wisata.

Selain itu, Light Rail Transit (LRT) juga dijadwalkan beroperasi pada Juni 2022, memudahkan akses dari luar catchment area untuk berkunjung ke Living World Kota Wisata. “Dengan kondisi ini, pasar Living World Kota Wisata bakal semakin luas,” imbuh Alphonzus. Meski demikian, Kawan Lama dan Sinarmas Land tetap akan menerapkan strategi khusus dengan menekankan pada diferensiasi konsep dengan bauran peritel atau tenancy mix, kuantitas toko, dan experience serta kuliner yang lebih banyak dan bervariasi.

Gambar Suasana Living World Kota Wisata

Business Development Director Kawan Lama Retail Sugiyanto Wibawa menambahkan, konsep Living World Kota Wisata mengadopsi perubahan post covid-19 dengan desain eco-green, dan environmental friendly. “Kami membangun brand value for better life, salah satunya menjadikan mal sebagai tempat bersosialisasi (hub) yang berdiri di kawasan permukiman,” kata Sugiyanto.

Dengan demikian, mal tidak berdiri sendiri karena pasarnya sudah tersedia dan masyarakat dapat mudah menjangkaunya. Living World Kota Wisata berdiri di atas lahan seluas 6 hektare dengan net leasable area (NLA) 80.000 meter persegi.

NLA ini mengalami perluasan 20.000 meter persegi, seiring perkembangan pasar dan perubahan desain. Perubahan desain ini berdampak pada penambahan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun dari sebelumnya Rp 1,2 triliun. Meski terjadi perubahan nilai investasi, namun komposisi kepemilikan dengan skema joint venture ini tetap 60:40, dengan Kawan Lama Group sebagai mayoritas.

Menurut Mall Director Kawan Lama Group Jannywati, Living World Kota Wisata akan menghadirkan lebih dari 400 toko serta 15 anchor dan mini anchor. “Kami mengandalkan kekuatan diferensiasi tenant mix di anchor tenant berkonsep Flagship Home Living, Home Improvement & Lifestyle seperti Ace Hardware, Informa, dan lainnya dengan luas area lebih dari 20.000 meter persegi,” jelas Janny.

Selain peritel dari Kawan Lama Group, Living World Kota Wisata juga akan diisi peritel lainnya di luar bendera perusahaan. “Saat ini masih dalam proses negosiasi,” ucap Janny. Living World Kota Wisata dijadwalkan beroperasi pada Kuartal I atau paling lambat Kuartal II-2023.