Pasar properti tahun ini semestinya lebih baik dengan kenaikan penjualan berkisar 10 persen hingga 15 persen, kata CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Prediksi kenaikan sebesar itu, menurut dia, dilatarbelakangi oleh penurunan yang cukup dalam yang terjadi sepanjang tahun lalu akibat pandemi virus corona jenis Covid-19.

“Terjadi penurunan yang cukup dalam tahun lalu. Jadi, secara umum harusnya pasar properti akan lebih baik pada tahun ini dengan kenaikan berkisar 10 persen sampai 15 persen, bila tidak ada kejadian luar biasa yang berdampak negatif bagi pasar properti itu sendiri,” ujarnya.

Dia mengutarakan bisnis properti tahun ini sangat menantang bagi pelaku pasar properti. Namun, dia memprediksi ketika pandemi mereda, pasar properti naik secara eksponensial, karena potensi permintaan yang tertunda masih sangat besar. Namun, hal itu baru terjadi paling cepat pada semester kedua tahun ini.

Berikut adalah pertumbuhan penjualan rumah per segmen harga tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu

  • Segmen rumah kelas menengah dibawah Rp 300 juta turun sebesar 42,9 persen
  • Segmen harga menengah dari Rp 301 juta hingga Rp 500 juta turun 34,2 persen
  • Segmen Rp 501 juta sampai Rp 1 miliar juga menurun 25,6 persen
  • Segmen harga rumah Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar meningkat 12,5 persen
  • Segmen rumah di harga lebih dari Rp 2 miliar yang anjlok 41,1 persen

Mengenai perkembangan ekonomi global, menurut Ali, meskipun banyak yang memperkirakan akan tumbuh lebih baik, tetap perlu dicermati bahwa status lockdown yang diberlakukan kembali di beberapa negara dapat mengganggu ekonomi secara luas.

Belum lagi perkembangan di China yang relatif masih terganggu oleh masuknya kembali Covid-19. Pertumbuhan positif khususnya di China akan sangat berpengaruh pada ekonomi global terkait aktivitas ekspor impor yang semakin baik. “Dengan beberapa faktor risiko dan kondisi penuh ketidakpastian, tentunya kita masih berharap banyak pasar properti akan tumbuh pada tahun ini,” ungkapnya.

Ali mengungkapkan pula bahwa sepanjang 2020, penjualan rumah jeblok, terburuk sejak bisnis properti memulai perlambatan pada 2013. Dia mengatakan penjualan perumahan sepanjang 2020 di Jabodebek–Banten sebagai benchmark perumahan nasional anjlok 31,8 persen dibandingkan dengan 2019. Meski demikian, lanjutnya, penjualan segmen rumah dengan harga Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar sepanjang tahun lalu ternyata meningkat hingga 12,5 persen dibandingkan dengan 2019 di tengah kondisi segmen hunian lainnya menurun.

Dia mengutarakan bahwa segmen pasar terus bergeser ke yang lebih rendah dan menjadikan pasar rumah segmen menengah menjadi cukup besar sampai kisaran Rp 2 miliar. Sebagian pasar menengah relatif tidak melakukan pembelian rumah dan terpaksa menunda pembeliannya. Sementara itu, di segmen bawah dengan kondisi saat ini relatif kehabisan daya beli untuk membeli segmen rumah di bawah Rp 300 jutaan.

Memasuki 2021, sebagian pengembang masih optimis untuk dapat membukukan penjualan yang lebih baik dibandingkan dengan 2020. Meskipun demikian, lanjutnya, perlu diperhatikan beberapa hal terkait dengan faktor yang saat ini sangat memengaruhi penjualan ke depan.