Konsultan properti Cushman & Wakefield menilai pandemi Covid-19 membuat bisnis mal atau pusat perbelanjaan modern di pinggiran Jakarta terganggu. Karena itu, pasokan pusat belanja diprediksi baru bisa recovery di tahun 2022. Kendati demikian, Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Arief Rahardjo mengaku, berdasarkan survei Cushman & Wakefield, penjualan ritel di mal yang berada di Jabodetabek sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan semester pertama 2020.

Berdasarkan data Cushman & Wakefield, menutup tahun 2020, pasar ritel di wilayah Depok, Bogor, Tanggerang dan Bekasi mencatat bertambah empat pusat ritel baru. Tiga dari pasokan ritel baru itu mulai beroperasi pada bulan Juli 2020 yaitu The Park Sawangan, Mall Ciputra Citra Raya, dan Ararasa Mall. Sementara AEON Mall Sentul City dibuka untuk umum pada Oktober 2020.

Penyelesaian empat pusat ritel baru ini, menambah sekitar 138.500 m2 ruang ritel untuk pasar Debotabek. Total ada tambahan 6 proyek baru di kawasan Debotabek. Arief memaparkan, sepanjang tahun lalu, tingkat okupansi pusat perbelanjaan juga mengalami penurunan 2,8 persen dari tahun sebelumnya menjadi 78,5 persen.

“Pada tahun 2020 dampaknya terlihat sangat kecil karena wilayah Debotabek lebih tidak terpengaruh oleh dampak pembatasan sosial berskala besar. Lebih dari 120.000 meter persegi ruang ritel diharapkan memasuki pasar ritel Debotabek pada tahun 2021. Jika semua pusat belanja baru yang diusulkan ini memenuhi jadwal penyelesaiannya, total pasokan akan mencapai 2.767.600 m2 pada akhir tahun 2021,” jelas Arief.

Embarcadero Park Bintaro

Ia mengungkapkan, estimasi mal di pinggiran Jakarta yang akan masuk pasar di tahun 2021 apabila tidak ada penundaan yaitu Paradise Walk Mall Serpong (Serpong City), Lippo Mall Orange County (phase 1), Embarcadero park Bintaro, dan Greenwalk lifestyle Mall (Eastern Green).

Dia menambahkan, untuk tarif sewa rata-rata ruang ritel Debotabek tetap tidak berubah yaitu di angka Rp 451.800 per m2 tiap bulannya untuk ruang ritel khusus di GF. Service charge juga tidak berubah dari tahun 2020 atau masih di angka Rp 133.500 per m2 tiap bulannya. Review kondisi pandemi seperti saat ini yang belum stabil harga sewa ritel belum akan naik atau setidaknya hingga Covid-19 dapat dikendalikan di wilayah tersebut.

Arief pun menyebut, sentimen yang akan berpengaruh besar terhadap pengeluaran belanja masyarakat di pusat perbelanjaan yaitu program vaksinasi Covid-19 berjalan tanpa kendala, tidak ada pembatasan sosial berskala besar lagi di Jabodetabek (baik pembatasan operasional untuk bisnis tertentu seperti restoran atau jam operasional keseluruhan mal. Terjadinya shifting dari yang terbiasa belanja offline di mall selama pandemi jadi sudah terbiasa belanja online, terkait hal ini retailers harus dapat melakukan sinergi antara toko online & offline yaitu strategi omnichannel.

Prospek Penjualan Ruang Ritel Pusat Perbelanjaan

Prospek Penjualan Ruang Ritel Jabodetabek

Pusat perbelanjaan di Indonesia masih memiliki prospek yang cerah ke depannya. Menurut Head of Research & Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus, Indonesia sedang dalam masa perkembangan ekonomi sehingga prospek ritel masih sangat besar. Kelas menengah sedang meningkat, konsumsi masyarakat meningkat, dan gaya hidup juga terus berubah dengan semakin banyak tren gaya hidup perkotaan. Jadi kalau dibilang prospek ritel itu masih sangat besar, tapi sekarang ini memang sedang terhambat masalah pandemi.

Selain itu, prospek pusat perbelanjaan juga masih sangat bagus lantaran banyak pengusaha ritel dari luar negeri yang masih menaruh harapan besar dengan bisnis ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia. Anton menilai, perlambatan yang terjadi saat ini akan berangsur pulih setelah pandemi ini usai.

Anton menyebutkan, sepanjang tahun lalu, tingkat okupansi pusat perbelanjaan turun dari sebelumnya di sekitar 90 persen menjadi 85 persen. Sementara dari sisi tarif sewa juga mengalami tekanan. Ia mencontohkan tarif sewa di Jakarta rata-rata turun sekitar 10 persen menjadi Rp 300.000 per m2 tiap bulannya. Menurutnya, hal tersebut juga lantaran tidak sedikit pengembang yang menurunkan tarif sewa untuk menjaga tingkat okupansi. Bahkan, keringanan yang diberikan hingga 40 persen’.

Okupansi mal sendiri tahun lalu sempat turun karena beberapa tenant tutup dan juga proyeksi kunjungan di pusat perbelanjaan baru tidak sesuai harapan. Beberapa pengembang yang memundurkan jadwal opening walaupun tidak terlalu banyak.

Oleh sebab itu, Anton memperkirakan, pasokan baru untuk pusat perbelanjaan masih akan tertahan. Sebab, pengembang saat ini masih berjuang menjaga tingkat keterisiannya. Sementara, untuk pusat perbelanjaan yang baru juga masih berjuang untuk menarik masyarakat datang. Perkiraannya pasokan baru 1 tahun – 2 tahun ini masih akan tertahan sampai paling tidak covid sudah selesai.

Anton melihat, di tahun ini akan ada sedikit perbaikan dibandingkan tahun lalu. Terlebih, saat ini sudah ada vaksinasi corona dan juga masyarakat semakin sadar akan protokol kesehatan sehingga kunjungan ke pusat belanja akan semakin membaik. Ia memproyeksikan, tingkat okupansi akan naik menjadi 87 persen di tahun ini. Sementara, untuk kembali pulih seperti sedia kala kemungkinan baru terjadi pertengahan tahun depan seiring dengan program vaksin pemerintah. Terutama kalau rencana pemerintah, distribusi vaksin 15 bulan. Jika berjalan lancar dan sampai pertengahan tahun depan wabah sudah hilang, semoga pertengahan tahun depan juga sudah kembali normal sebelum Covid-19.

Tingkat Kunjungan Ke Mall Masih 70 persen Dari Normal

Tingkat Kunjungan Ke Mall Masih 70 Persen Dari Normal

PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) nilai tren bisnis pusat perbelanjaan masih akan mengalami perlambatan tahun ini. Hal tersebut juga menilik pada tingkat kunjungan dari pusat perbelanjaan yang dimilikinya. Direktur Metropolitn Land Olivia Surodjo menyebutkan proyeksi kinerja perbelanjaan masih akan mengalami perlambatan dan belum akan pulih/normal melihat kasus penularan/penyebaran virus Covid-19 yang masih tinggi khususnya di DKI Jakarta dan kota-kota penyangga Jakarta.

Terlebih di awal tahun ini juga tingkat kunjungan yang kembali turun setelah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Akibatnya, ia menilai kebijakan keringanan harga sewa masih akan dituntut oleh tenant kepada pengelola mall dengan adanya kebijakan tersebut.

Dengan pembatasan yang diberlakukan saat dapat semakin cepat mengurangi penyebaran virus Covid-19 dan ada perbaikan kondisi di bulan-bulan mendatang seiring dengan dimulainya pemberian vaksin kepada masyarakat. Olivia memaparkan bahwa saat ini tingkat kunjungan masyarakat di pusat perbelanjaan perusahaan baik Metropolitan Bekasi, Grand Metropolitan, Metroplitan Cileungsi masih berada di bawah kunjungan normal. “Tingkat kunjungan berkisar di 60 persen – 70 persen dari kunjungan normal,” sebutnya.

Dari laporan keuangan MTLA, hingga kuartal III-2020 tercatat pendapatan perusahaan sebesar Rp 676,92 miliar. Nilai tersebut turun 14,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 789,71 miliar. Adapun pusat perbelanjaan memberikan kontribusi sebesar Rp 179,7 miliar. Rinciannya, sewa ruang sebesar Rp 124,43 miliar, jasa layanan dan pemeliharaan sebesar Rp 33,48 miliar, serta utilitas sebesar Rp 21,78 miliar. Realisasi tersebut turun 45,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 262,33 miliar.