Rumah Second Alami Peningkatan Penjualan

Imbas dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan yang dilanjutkan dengan PPKM yang berlaku di DKI Jakarta berdampak besar ke putaran ekonomi warga Jabodetabek. Banyak aktivitas perdagangan dan jasa terseok-seok menjalankan usaha. Jangankan untuk ekspansi bisnis, mencari modal kerja agar usaha tetap jalan saja banyak yang kesulitan.

Kondisi itu mempengaruhi arus kas pemilik usaha yang tak lagi cukup untuk biaya usaha dan gaji para pekerja. Alhasil, sebagian dari mereka mulai menjual aset untuk mendapatkan dana segar agar bisa menjalankan usaha kembali.

Pilihan ini tak hanya dilakukan oleh pengusaha saja tetapi juga dilakukan oleh kalangan pekerja dan karyawan. Karena ada juga yang menjual rumahnya dan memilih pulang kampung atau tinggal di kontrakan. Kondisi inilah yang membuat pasokan rumah second di Jabodetabek naik drastis. Makanya bisnis kami tetap jalan karena banyak properti seken yang dijual.

Dalam hitungan Erwin Karya, Direktur Ray White Indonesia, salah satu perusahaan agen penjualan properti di Indonesia., kenaikan jumlah hunian second saat pandemi rata-rata mencapai 30 persen. Dari banyak jenis properti itu, rumah dengan kategori medium lebih banyak dicari ketimbang rumah mewah. Meski demikian, pasokan properti second tak hanya rumah saja, tetapi juga properti komersial.

Rumah Second Siap Huni Puspitaloka BSD Serpong

Kenaikan pasokan rumah ini tentu berpengaruh pada harga jual. Hukum ekonomipun terjadi, harga turun jika pasokan berlimpah. Banyak pemilik menurunkan harga agar propertinya terjual. Menurut penuturan Erwin, tak hanya sekali dua kali konsumen memberikan harga diskon atau harga covid ke pembelinya.

Maksud dari harga covid adalah harga dengan potongan rata-rata sebesar 25 persen sampai 30 persen. Penurunan harga inilah yang kini diincar oleh investor. Namun tentu tak semua hunian yang jadi incaran investor. Hunian jangkung atau apartemen pun masuk di dalamnya. Banyak pemilik apartemen menjual unitnya dengan harga covid karena tak produktif lagi disewakan. Jika tak ada penyewa, pemilik tetap terbebani bayar service charge, kata Erwin.

Menurut Erwin, rumah tapak yang masih menjadi favorit bagi konsumen dan investor adalah rumah yang harga jualnya ada di bawah Rp 1,5 miliar. Selain investor, pengembang juga membidik pembeli milenial yang usahanya tetap jalan atau tempat kerjanya tak terdampak oleh pandemi.

Boleh saja ada anggapan pandemi virus corona disease merontokkan daya beli masyarakat. Namun jangan frustasi dulu, masih ada kok kelompok masyarakat yang masih memiliki daya beli termasuk daya beli untuk properti. Ketika pandemi tiba di bulan Maret lalu, banyak pengembang mulai menahan diri mencetak proyek hunian baru karena khawatir daya beli tak mampu menyerapnya. Kondisi ini tentu mengganggu bisnis agen properti yang kekurangan pasokan untuk didagangkan ke ke konsumen, terutama properti yang baru. Kami sebagai agen bernasib sama dengan pengembang, kata Erwin.

Akan tetapi belakangan ini, kekhawatiran pengembang tak seluruhnya benar. Erwin menyuguhkan beberapa contoh proyek properti yang berhasil mencetak penjualan saat pandemi Covid-19. Pengembang yang punya merek besar masih menjual dan meluncurkan proyek baru dan habis, kata Erwin.

Salah satu proyek yang disebut Erwin itu adalah, proyek kota mandiri Summarecon Bogor di Sukaraja, Bogor, Jawa Barat. Ratusan unit perumahan yang diluncurkan di kawasan kota mandiri tersebut ramai dipesan konsumen dan investor. “Meski terbatas tak sebanyak dulu, tapi kami percaya masih ada konsumen yang menyimpan uang di bawah bantal, kata Erwin.

Dari situlah Erwin meyakini, masih ada konsumen yang masih memiliki uang di bawah bantal atau memiliki dana untuk investasi di properti. Pendapat yang tak jauh berbeda juga disampaikan Lukas Bong, Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Menurut Lukas, pengembang yang mampu membukukan penjualan saat pandemi itu rata-rata adalah pengembang yang paham dan mengerti kebutuhan konsumen.

Menurut Lukas, meski pandemi, Summarecon berhasil menjual properti kisaran harganya di bawah Rp 1,5 miliar dalam jumlah ratusan. Angka penjualan ini tentu menggembirakan dalam kondisi ekonomi yang terombang-ambing. Namun, Summarecon rupanya paham kebutuhan konsumen tersebut. Dia bermain di rentang harga di bawah Rp 1,5 miliar, ini masih banyak peminatnya, jelas Lukas,

Summarecon Bogor Laris Manis Diserbu Investor

Keputusan Summarecon merilis Summarecon Bogor ikut mengerek kinerjanya lewat PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Sampai akhir September, perusahaan ini meraih marketing sales Rp 2,01 triliun dari target akhir tahun Rp 2,5 triliun. “Saat pandemi kami tetap menjalankan usaha, agar perekonomian terus berjalan,” kata Adrianto P. Adhi, Presiden Direktur SMRA.

Selain Summarecon, ada Sinarmas Land yang masih bisa jualan meski pandemi. Sampai September, Sinarmas Land lewat PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan marketing sales Rp 4,7 triliun atau setara 65 persen target tahun ini sebesar Rp 7,2 triliun.

Pencapaian target tak lepas dari strategi Sinarmas Land menggarap segmen menengah. Salah satunya adalah meluncurkan Freja House di BSD City dengan harga kisaran Rp 1 miliar – Rp 1,4 miliar. Agar penjualan terserap maksimal, Hermawan, Direktur BSDE membuat beragam strategi penjualan, salah satunya membatasi penjualan hanya 180 unit.

Selain hunian, pencapaian marketing sales BSDE berasal dari proyek komersial yang juga laris manis saat pandemi. Untuk segmen residensial maupun komersial kami antara lain Freja House, Freja Suites, Loka 65, 92 Avenix, YC Hub di BSD City serta O2+ Urban Pop di Grand Wisata, Bekasi, kata Hermawan. Strategi lain dari BSDE untuk mengejar marketing sales lainnya adalah membuat program promosi mulai dari diskon 20% atau gratis uang muka, hingga diskon KPR sebesar 15%.

Freja House Berlokasi Di Bumi Serpong Damai

Grup properti besar lainnya yang bisa mencetak penjualan saat pandemi adalah Grup Ciputra. Sampai September, Ciputra menuai marketing sales Rp 3,8 triliun dari target akhir tahun Rp 4,5 triliun. Kami belum ada proyek baru, ini penjualan dari proyek yang sudah ada, kata Tulus Santoso, Direktur Independen Ciputra Development. Tulus menambahkan, kontribusi penjualan Ciputra berasal dari properti dengan harga di bawah Rp 2 miliar yang tersebar di Citra Maja Raya, CitraRaya Tangerang, dan Citra Sentul Raya.

Meski demikian, kinerja penjualan Summarecon, Sinarmas dan Ciputra bukanlah cerminan kondisi pasar properti keseluruhan. Lukas bilang, yang masih bisa berjualan kebanyakan adalah pengembang yang memiliki reputasi dan merek kuat. Adapun pengembang lainnya, kebanyakan menahan atau menunda proyek baru.

Lukas bilang banyak investor yang tertarik investasi di properti meski ada covid. Tipe konsumen atau investor yang mau investasi saat kondisi krisis covid-19 ini adalah konsumen yang kritis, mereka mencari peluang, mencari lokasi yang bagus dan harga reasonable, kata Lukas.

Belajar dari pengalaman krisis 1998 dan 2008 lalu, Lukas bilang banyak investor membeli properti di saat krisis dan menjualnya usai krisis. Dari aksi ambil untung itu, pembeli bisa menikmati kenaikan harga 30 persen sampai 100 persen hanya dalam tempo dua tahun. “Mereka inilah yang mengincar properti harga covid,” kata Lukas.